NurTaslimah#NHW#3

Nur Taslimah @ Nice Homework #3

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Enam belas tahun lima bulan usia pernikahan kami. Di setiap ulang tahun pernikahan, biasanya suami yang sering membuat surat cinta, apalagi dulu ketika LDR an selama 6 tahun di awal pernikahan. Suratnya kadang dikirim lewat pos, kadang diberikan langsung, tapi seringnya ditulis di fb atau blog. Jadi semacam surat terbuka. Saya pernah juga sih membalas surat cintanya, tapi seringnya saya membuat surat itu bila saya merasa ada something wrong dengan suami, bila saya sedang jealous berat, atau ada masalah yang harus saya selesaikan.
Di nice homework #3 ini saya harus membuat surat cinta ke suami. Terus terang tugas ini berat karena saya merasa hubungan kami baik baik dan mesra mesra saja. Kayaknya tidak asyik dan tidak akan menjadi surprise karena apa yang saya tulis sudah sering kami ungkapkan. Tapi karena ini tugas, ya akhirnya saya membuat saja. Saya tuliskan bahawa saya wajib bersyukur mempunyai suami yang baik seperti dia, terimakasih sudah menjadi a good husband and a good dad for our children. And the last I said thanks for his love and for everything. Respon suami biasa saja karena memang saya sering mengungkapkan demikian written or orally.

Alhamdulillah kami dikaruniai empat anak (dua putra dan dua putri). Setiap anak adalah unik dan memiliki potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
1. Nadia (15 th)
Alhamdulillah, saya bersyukur mendapatmenjadi ibu dari nadia. Semua gurunya juga menyatakan bahwa saya beruntung sekali mempunyai anak seperti dia. Selain cerdas, sopan, tawadhu, dia dikaruniai Allah suara yang bagus dan fasih dalam melantunkan al-Qur’an. Setiap lomba tartil, nadia langganan menjadi juara. Dan di pondok tahfidznya, dulu dia diwisuda menjadi santri termuda yang hafal 30 juz. Tapi dia akan mencubit saya, memberi tanda untuk tidak memberitahu bila ditanya sudah hafal berapa juz. Sampai sampai ketika dia saya ikutkan lomba MUSE Season 2, dia mengaku hafal 1 juz saja.
Nadia juga terbiasa hidup hemat dan sederhana banget. Sering bila saya ambilkan baju baru dari etalase (saya jualan baju n sepatu di rumah) dia berkata, tidak usah mi, dijual aja. Uang sakunya juga sering utuh, untuk kemudian dia tabung yang kadang untuk membayar sendiri uang sekolahnya dan keperluan sekolah lainnya.
Bakat lainnya adalah nadia pintar menggambar. Dialah yang menjadi illustrator buku produk RnD thesis S2 saya (Picture Story Books for Islamic high school students). Dia beberapa kali diminta untuk menjadi illustrator sampul dan isi buku, salah satunya buku antologi Masa Kecil Tak Terlupa. Pernah menjadi juara 2 lomba menggambar tingkat internasional yang diadakan oleh tux pain.

2. Dayyan Nashrul Haq (13 thn)
Anak saya yang kedua ini unik. Dia tidak mau mondok seperti kakak dan adiknya. “Kalo saya mondok siapa yang akan membantu umi di rumah,” kilahnya. Walau dia laki laki, dia gemar memasak dan mencoba resep makanan dan kue kue dari internet. Dia juga suka bereksperimen tentang sesuatu yang dia dapatkan dari buku pelajaran di sekolahnya misal IPA. Dayyan mempunyai sifat kritis. Dia akan protes bila ada sesuatu yang tidak sesuai aturan. Melihat nilai di sekolahnya, dia lebih berminat ke pelajaran matematika dan eksakta dibandingkan dengan bahasa. Ketika try out IPA dia nomer 1 paralel (300an siswa ) tetapi dia peringkat 200an untuk pelajaran bahasa Indonesia. Saya tanya kok bisa segitu parahnya bahasa indonesianya, dia menjawab, malas mi’ membaca soal panjang panjang.

3. Mujahid Habiburrahman
Anak saya yang ketiga ini terpaut 17 bulan dengan kakaknya yang kedua. Dulu dikira kembar, sekarang justru dikira kakaknya Dayyan karena badannya yang jauh lebih besar. Dia tidak pernah pilih pilih makanan. Buah, sayuran dan apapun yang saya masak dia makan dengan lahapnya. Dia anak yang mandiri, berani, dan patuh. Dia mencuci bajunya sendiri walau saya tawarkan untuk menaruh cuciannya di rumah saja biar saya yang mencucinya (dia mondok tahfidz dan sekolah, kebetulan sekolahnya di dekat rumah). Bila saya meminta bantuan (saat anak anak berkumpul semua di rumah), dia yang datang pertama. Bahkan seringnya dia yang menawarkan bantuan duluan. Walau nilai nilai sekolahnya tidak seperti kakak kakaknya yang menjadi top rank di kelasnya, dia tidak pernah mengeluhkan adanya kesulitan pelajaran sekolah, atau setoran hafalannya, atau mengeluhkan kurangnya waktu dalam belajar dan hafalannya. It seems that everything is okay. Dan satu lagi yang saya suka dari anak saya ketiga ini adalah dia hemat dan bersahaja seperti kakaknya yang pertama.

4. Kya adinda Sholihah (7 tahun)
Anak saya yang terakhir ini ekspressif, sering menulis surat untuk abi uminya bila ada sesuatu yang perlu diungkapkan. Sejak kecil dia sudah dilatih abinya bercerita lewat tulisan di blognya. Dia juga sociable. Dia kenal dengan nama nama anak kecil sampai orang tua, embah embah sekampung. Setiap dia lewat depan rumah seseorang, dia pasti menyapa/memanggil si pemilik rumah bila kebetulan ada, sebaliknya anak anak sekampung juga menyapa kya bila kya lewat. Dia akan bercerita banyak walau cuma ditanya satu hal. Dia bakat menjadi pengatur dan suka akan hal itu. Bila dia bersama teman temannya, dia suka mengarahkan teman temannya untuk begini dan begitu. Dia juga sudah berani untuk tampil ke depan public sejak usia dini. Ini berbeda dengan kakak kakaknya yang pemalu sewaktu kecil.

Saya adalah manusia biasa dengan penuh kelemahan dan keterbatasan. Saya wajib bersyukur kepada Allah yang telah memberi saya kemudahan untuk belajar, memberi saya kesempatan untuk bersekolah dan kuliah sampai s2 dengan mudah di tengah kesulitan yang menghimpit lingkungan pedesaan dan keluarga saya saat itu. Ketika orang orang lain di sekitar saya sulit mencari pekerjaan, saya justru menolak nolak pekerjaan sampai saat ini. saya langsung diangkat menjadi guru (pns) selepas S-1 saya. Semua kemudahan itu adalah semata mata pemberian Allah yang harus saya pertanggungjawabkan nanti.

Lima belas tahun keluarga saya tinggal dengan mertua, dan baru setahun setengah ini pindah ke lingkungan yang baru. Alhamdulillah keluarga saya langsung diterima dengan baik dan senang hati oleh tetangga dan lingkungan. Banyak yang mempercayakan putra putrinya belajar mengaji dan les di sore hari. Saya tidak tahu mengapa mereka begitu percaya pada saya dan keluarga saya? Saya lihat di tetangga saya antar satu rumah dangan rumah yang lain yang bersebelahan banyak yang tidak saling sapa, tidak akur. Tapi anehnya mereka (yang saling tidak bertegur sapa tadi) bisa sama sama baik kepada saya, dan saling curhat masalah mereka kepada saya. Selama ini saya masih menjaga perasaan para tetangga yang saling tidak bertegur sapa, sampai sampai bila saya ingin memberi sesuatu kepada satu keluarga yang tidak disukai oleh tetangga satunya saya menunggu waktu agar tidak terlihat oleh mereka, sehingga tidak kelihatan saya memihak kelompok yang mana. Setahun yang lalu saya melihat ada satu kebutuhan di gang saya yaitu tiadanya saluran drainase, Alhamdulillah kami bisa mengajak para tetangga untuk bekerja sama mengadakannya walo sponsor terbesarnya adalah keluarga kami. Tapi sayang, saluran itu macet kembali dan para tetangga yang tidak akur masih tetap tidak akur, terbukti dua minggu yang lalu ada tetangga yang meninggal. Kelompok yang tidak akur tidak terlihat datang takziah apalagi membantu. Ini adalah tantangan dan PR keluarga kami di lingkungan yang baru bagaimana mereka akur dan rukun satu sama lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s